Kamis, 29 Desember 2011

AIR Untuk KEHIDUPAN

Pernahkah anda membayangkan bila dunia ini tanpa air???? Mungkin dipikiran kita kehidupan ini akan musnah, tak akan ada yang bisa bertahan. Begitulah pentingnya air sampai-sampai tak ada yang dapat hidup tanpa air. Manusia buruh air, hewan butuh air, tumbuhan pun butuh air.

Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. (Wikipedia.com). Lihat saja jika seorang ilmuwan ingin meneliti apakah ada kehidupan di planet lain, maka yang pertama dicari para ilmuan selain udara adalah keberadaan air. Mengapa??? Karena mereka menyakini bahwa semua kehidupan di bumi muncul dari air. Wow…. Itulah Hebatnya AIR…!!! Ada dan tidak adanya kehidupan semua tergantung pada air.

Makanya Air itu butuh suatu konservasi atau upaya pemeliharaan sifat dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan mahluk hidup, baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang. Upaya melindungi sumber air, saat ini mendapatkan perhatian yang cukup serius dari pemerintah. Hal ini berangkat dari kesadaran masyarakat dan pemerintah bahwa sumber air sebagai unsur lingkungan yang vital merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat menjamin berlanjutnya kehidupan.
Berbagai peraturan perundang-undangan dikeluarkan seperti “Ketentuan-ketentuan Payung”, yang dituangkan dalam Undang-undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 41/1999 tentang Kehutanan, UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air.

Upaya ini dilakukan selain untuk menjaga kelastarian air dan juga agar menjaga agar air tidak tercemar, juga mempunyai beberapa manfaat dari konservasi ini :

1. Pencegahan Banjir dan Kekeringan
Banjir terjadi karena sungai dan saluran-saluran drainase lain tidak mampu menampung air hujan yang turun ke bumi. Penuhnya air permukaan pada sungai dan danau serta saluran drainase lain disebabkan karena air hujan itu tidak merembes ke bumi, melainkan mengalir menjadi air permukaan. Untuk upaya ini pemerintah membuat aturan untuk pada kawasan resapan air tidak diperkenankan mendirikan bangunan di kawasan ini karena akan menghalangi meresapnya air hujan secara besar-besaran. Pembangunan jalan raya juga dihindari agar tidak menyebabkan pemadatan tanah dan terganggunya fungsi akuifer. vegetasi yang ada dijaga dan tidak dilakukan penebangan komersial.

2. Pencegahan Erosi dan Sedimentasi
Erosi dan sedimentasi adalah peristiwa terkikisnya lapisan permukaan bumi oleh angin atau air. Faktor penentu sedimentasi ini adalah iklim, topografi, dan sifat tanah serta kondisi vegetasi.

3. Pencegahan Kerusakan Bantaran Sungai
Kerusakan bantaran sungai dapat diakibatkan oleh pengikisan aliran air dan aktivitas manusia yaitu dengan pembuangan sampah, material dan pengurukan untuk melindungi tempat tinggal.
SELANJUTNYA >>

Sabtu, 24 Desember 2011

Pemutaran Film Siazteen "RETAK" Slideshow Slideshow

Pemutaran Film Siazteen "RETAK" Slideshow Slideshow: TripAdvisor™ TripWow ★ Pemutaran Film Siazteen "RETAK" Slideshow Slideshow ★ to . Stunning free travel slideshows on TripAdvisor
SELANJUTNYA >>

Minggu, 18 Desember 2011

Film Dokumenter "Retak"

Sebuah Karya kami buat SMA Neg. 1 Bantaeng
Semoga jdi Insprirasi untuk karya-karya yang lebih baik lagi nantinya....

Retak Bag. 1


Retak Bag. 2

Retak Bag. 3

Retak Bag. 4


THANKS
SELANJUTNYA >>

Minggu, 04 Desember 2011

HUKUM HOOKE DAN AYUNAN BANDUL SEDERHANA



HUKUM HOOKE DAN AYUNAN BANDUL SEDERHANA



A. Tempat dan tanggal praktikum.
Praktikum 1
  •  Tempat                       :   Laboratorium Fisika
  •  Tanggal praktikum     :   Kamis, 10-Desember-2009


Praktikum 2
~  Tempat                      :    Laboratorium Fisika
~ Tanggal Praktikum   :    Jumat, 11-Desember-2009

B. Tujuan praktikum
     Tujuan : Menentukan Hubungan gaya (F) dengan pertambahan panjang (∆x) dan hubungan periode (T) dengan panjang tali ()

C. tinjauan pustaka
A. Hukum Hooke
Hubungan antara gaya F yang meregangkan pegas dengan pertambahan panjang pegas x pada daerah elastisitas pertama kali dikemukakan oleh Robert Hooke (1635 - 1703), yang kemudian dikenal dengan Hukum Hooke. Pada daerah elastis linier, sesarnya gaya F sebanding dengan pertambahan panjang x. Secara matematis dinyatakan:
F = k . .................................................................. (3.5)
dengan:
F = gaya yang dikerjakan pada pegas (N)
x = pertambahan panjang (m)
k = konstanta pegas (N/m)
Pada saat ditarik, pegas mengadakan gaya yang besarnya sama dengan gaya tarikan  tetapi arahnya berlawanan (Faksi = -Freaksi). Jika gaya ini disebut gaya pegas FP maka gaya ini pun sebanding dengan pertambahan panjang pegas.
Fp = -F
Fp = -k. .................................................................. (3.6)
dengan:
Fp = gaya pegas (N)
Berdasarkan persamaan (3.5) dan (3.6), Hukum Hooke dapat dinyatakan:
Pada daerah elastisitas benda, besarnya pertambahan panjang sebanding dengan gaya yang bekerja pada benda.

B. Ayunan Bandul Sederhana
Ayunan sederhana sering disebut dengan bandul. Ayunan yang terdiri atas beban yang diikat pada benang disimpangkan dengan sudut θ  tertentu sehingga ayunan tersebut melakukan ge rakan bolak-balik sepanjang busur AC. Bolak-balik ayunan melalui titik A, B, dan C. Gerakan yang terjadi pada ayunan disebut getaran. Getaran merupakan gerakan bolak-balik secara periodik melalui titik kesetimbangan. Satu getaran lengkap adalah gerakan bolak-balik dari A ke C dan kembali lagi ke A. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu getaran lengkap disebut periode. Sedangkan banyaknya getaran atau gerak bolak-balik yang dapat dilakukan dalam waktu satu detik disebut frekuensi. Frekuensi yang ditimbulkan oleh ayunan tidak dipengaruhi gaya dari luar. Frekuensi yang demikian disebut frekuensi alamiah. Getaran pada ayunan terjadi karena adanya gaya pemulih (F), yaitu gaya yang menyebabkan benda kembali ke keadaan semula.

D. Alat Dan Bahan
Praktikum 1 :
  • Pegas
  •  Beban
  • Mistar
  • Statif



   Praktikum 2:
1)      Statif
2)      Benang
3)      Stopwatch
4)      Mistar
5)      Beban
6)      Busur Derajat

E. Cara Kerja
Praktikum 1
1)      Siapkan statif dan gantungkan salah satu ujung pegas pada statif seperti pada gambar.
2)      Ukurlah panjang pegas tanpa beban dengan mistar, misalnya sebesar Xo.
3)      Berikan gaya pada pegas dengan cara menggantungkan beban m pada ujung pegas bagian bawah sehingga pegas bertambah panjang. Besar gaya yang diberikan memenuhi F= mg (N). Gunakan g= 9,8 m/s2.
4)      Kemudian ukur kembali panjang pegas dengan mistar, misalnya sebesar X. Hitung pula pertambahan panjang pegas ∆X= X-Xo.
5)      Ulangi langkah 3 dan 4 beberapa kali dengan gaya tarik F yang berbeda ( Caranya dengan mengganti / Menambah beban m) sehingga menghasilkan perpanjangan pegas yang berbeda.
6)      Catat semua data pada tabel.

Praktikum 2
1)      Pertama-tama ukurlah tali sepanjang 100 cm, kemudian berikan beban 50 gr.
2)      Berilah Simpangan sudut sebesar 20o
3)      Ukurlah waktu yang di perlukan selama 10 ayunan
4)      Ulangi langkah di atas dengan menggunakan panjang tali 80 cm, 60, cm 40 cm, dan 20 cm dengan massa dan simpangan sudut tetap



F. Hasil Pengamatan

Praktikum 1

NO
∆X= X-Xo
(m)
F= m.g
(N)
K= F/∆ (N/m)
( k-k )
( k-k )2
1
0,05
0,49
49
0
0
2
0,1
0,98
49
0
0
3
0,15
1,47
49
0
0
4
0,2
1,96
49
0
0
5
0,25
2,45
49
0
0

Praktikum 2

NO
l (cm)
Waktu untuk 10  ayunan (t)
T= t/10
T^2
1
2
3
4
5
100 cm
80 cm
60 cm
40 cm
20 cm
21,6 s
19,2 s
17 s
14,8 s
12,2 s
2,16
1,92
1,7
1,48
1,22
4,66
3,68
2,89
2,19
1,48













G. Pembahasan

Praktikum 1
Panjang mula-mula pegas (Xo) 0 m ketika di beri beban sebesar 50 gram maka pegas bertambah panjang menjadi 0,05 m, ketika beban diganti menjadi 100 gram maka pegas bertambah panjang menjadi 0,1 m, ketika beban diganti menjadi 150 gram maka pegas bertambah panjang menjadi 0,15 m, ketika beban diganti menjadi 200 gram maka pegas bertambah panjang menjadi 0,2 m, ketika beban diganti menjadi 250 gram maka pegas bertambah panjang menjadi 0,25 m. Pertambahan panjang pegas (X) dapat di hitung dengan rumus X=X-Xo, maka di peroleh data berturut turut 0,05, 0,1, 0,15, 0,2, 0,25. begiti juga dengan gaya yang bekerja pada pegas (F) dengan rumus F= m.g dan konstanta pegas (k) denagn rumus k= .

Praktikum 2
Saat Panjang tali 100 cm waktu yang diperlukan untuk mengayunkan bandul sebanyak 10 ayunan yaitu 21,6 sekon, ketika panjang tali di perkecil menjadi 80 cm maka waktu yang dibutuhkan lebih cepat dari sebelumnya yaitu 19,2 sekon, ketika panjang tali di perkecil menjadi 60 cm maka waktu yang dibutuhkan lebih cepat dari sebelumnya yaitu 17 sekon, ketika panjang tali di perkecil menjadi 40 cm maka waktu yang dibutuhkan lebih cepat dari sebelumnya yaitu 14,8 sekon hingga panjang tali di perkecil menjadi 20 cm maka waktu yang di butuhkan hanya 12,2 sekon. Hal ini menunjukkan bahwa, Semakin kecil panjang tali maka waktu yang di perlukan untuk mengayunkan 10 ayunan lebih sedikit sehingga bandul memiliki kecepatan yang besar. Waktu yang diperlukan untuk 10 ayunan disebut Periode (T), sedangkan banyaknya ayunan dalam 1 sekon disebut frekuensi (f). Hubungan pertambahan panjang dengan periode berbanding lurus.



H. Kesimpulan

Praktikum 1

Hubungan antara  Îx  dengan F berbanding lurus, semakin besar F, maka  Îx  juga akan semakin besar


Praktikum 2

Hubungan antara periode (T) dengan panjang tali ( l ) berbanding lurus, sebab semakin panjang tali yang di gunakan semakin lama waktu yang di perlukan sehingga periode (T) juga semakin besar.




Daftar pustaka

Sukaryadi - Siswanto. 2009. Kompetensi Fisika: untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Handayani, Sri - Damari, Ari. 2009. Fisika untuk Sma / Ma kelas XI. Jakarta. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Nurachmandani, Setya.2009. Fisika 2. Jakarta. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.



Download disini
SELANJUTNYA >>

Laporan Fisika "KAMERA"

Laporan Fisika Tentang Kamera berisi Bagian Kamera dan Fungsinya


Laporan Fisika KAMERA
SELANJUTNYA >>

Sabtu, 03 Desember 2011

Laporan Pertumbuhan Kacang Hijau

Laporan Biologi Tentang Pertumbuhan Kacang Hijau...


Laporan Biologi "Tanaman Kacang Hijau"
SELANJUTNYA >>

Laporan Uji Zat Makanan

Berikut contoh Laporan Biologi Uji Berbagai zat Makanan...
SEMOGA BERMANFAAT...!!!!!



Uji Berbagai Zat Makanan
SELANJUTNYA >>

PENGERTIAN FUNGSI DAN JENIS LINGKINGAN PENDIDIKAN


PENGERTIAN, FUNGSI, DAN JENIS
LINGKINGAN PENDIDIKAN

Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan, yang akan mempengaruhi manusia secara bervariasi. Seperti diketahui, setiap bayi manusia dilahirkan dalam lingkungan keluarga tertentu, yang merupakan lingkungan pendidikan terpenting sampai anak mulai masuk taman kanak-kanak ataupun sekolah. Oleh karena itu, keluarga sering dipandang sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama. Makin bertambah usia manusia, peranan sekolah dan masyarakat lusa makin penting, namun peranan keluarga tidak terputus. Bab ini akan membahas tentang pengertian dan fungsi lingkungan pendidikan, tripusat pendidikan dan pengaruh timbal balik antara tripusat pendidikan dan perkembangan peserta didik.

A.    PENGERTIAN DAN FUNGSI LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengalaman. Pengalaman ini terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial manusia secara efisien dan efektif itulah yang disebut dengan pendidikan. Dan latar tempat berlangsungnya pendidikan itu disebut lingkungan pendidikan, khususnya pada tiga lingkungan utama pendidikan yakni keluarga, sekolah dan masyarakat.
Berdasarkan perbedaan ciri-ciri dari ketiga lingkungan pendidikan itu, maka ketiganya sering dibedakan sebagai pendidikan informal, formal, dan nonformal. Pendidikan yang terjadi dalam lingkungan keluarga berlangsung alamiah dan wajar serta disebut pendidikan informal. Sebaliknya, pendidikan sekolah adalah pendidikan yang secara sengaja dirancang dengan aturan-aturan yang ketat, seperti harus benjenjang dan berkesinambungan sehingga disebut pendidikan formal. Sedangkan pendidikan di lingkungan masyarakat tidak berjenjang dan berkesinambungan, serta dengan aturan yang lebih longgar sehingga disebut pendidikan non formal.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanaya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
Perlu pula dikemukakan bahwa pelaksanaan pendidikan dilakukan melalui tiga kegiatan yakni membimbing, mengajar, dan/atau melatih (Ayat 1 Pasal 1 dari UU RI No. 2/1989). Meskipun ketiga kegiatan itu pada hakikatnya tritunggal, namun dapat dibedakan aspek tujuan pokok dari ketiganya yakni :
a.       Membimbing, terutama berkaitan dengan pemantapan jati diri dan pribadi dari segi-segi perilaku umum (aspek pembudayaan).
b.      Mengajar, terutama berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, dan
c.       Melatih, terutama berkaitan dengan keterampilan dan kemahiran (aspek teknologi).

B.     TRIPUSAT PENDIDIKAN
Manusia sepanjang hidupnya selalu akan menerima pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang utama yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat, dan ketiganya disebut tripusat pendidikan. Lingkungan pendidikan yang mula-mula tetapi terpenting adalah keluarga. Pada masyarakat yang masih sederhana dengan struktur sosial yang belum kompleks, cakrawala anak sebagian besar masih terbatas pada keluarga.
Dalam pengaturan dasar perguruan nasional taman siswa (putusan kongres X tanggal 5-10 Desember 1966) Pasal 15 ditetapkan bahwa :
1.      Untuk mencapai tujuan pendidikannya, taman siswa melaksanakan kerja sama yang harmonis antara ketiga pusat pendidkan yaitu :
            a. Lingkungan Keluarga.
            b. Lingkungan Perguruan.
            c. Lingkungan masyarakat/pemuda.
2.      Sistem pendidikan tersebut dinamakan system “tripusat” (Suparlan, 1984 : 110). Bagi Taman Siswa, disamping siswa yang tetap tinggal  dilingkungan keluarga. Sebagai siswa tinggal di asrama (Wisma Priya dan Wisma Rini) yang dikelola secara kekeluargaan dengan     menerapkan Sistem Among. Sedangkan pada lingkungan masyarakat,     taman siswa, menerapkan dengan penekanan pemupukan semangat kebangsaan.
1.      Keluarga
Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan semenda dan sedarah. Keluarga itu dapat terbentuk keluarag inti (nucleus family). : ayah, ibu, dan anak.ataupun keluarga yang diperluas (disamping inti, ada orang lain : Kakek/nenek, adik/ipar, pembantu, dan lain-lain).Perkembangan kebutuhan dan aspirasi individu maupun masyarakat, menyebabkan peran keluarga terhadap pendidikan anak-anaknya juga mengalami perubahan. Seperti telah dikemukakan bahwa pada mulanya, keluargalah yang terutama berperan baik pada aspek pembudayaan.maupun penguasaan pengetahuan dan keterampilan.
Fungsi dan peranan keluarga, disamping pemerintah dan masyarakat, dalam Sisdiknas Indonesia tidak terbatas hanya pada pendidikan keluarga saja, akan tetapi keluarga ikut serta bertanggungjawab terhadap pendidikan lainnya. Menurut Ki Hajar Dewantoro, suasana kehidupan  keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan orang-seorang(pendidikan individual) maupun pendidikan sosial. Keluarga itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan pendidikan kearah pembentukan pribadi yang utuh, tidak saja bagi kanak-kanak tapi juga bagi para remaja.
Lingkungan keluarga sungguh-sungguh  merupakan pusat pendidikan yang penting dan menentukan , karena itu tugas pendidikan adalah mencari cara, membantu para ibu dalam tiap keluarga agar dapat mendidik anak-anaknya dengan optimal. Pada umunya ibu bertanggung jawab untuk mengasuh anak, oleh karena itu  pengaruh hubungan antara ibu dan anak perlu mendapat perhatian, utamanya pengaruh pengawasan berlebihan terhadap perkembangan anak. Disamping hubungan antara ibu dan anak, komposisi keluarag juga mempunyai pengaruh terhadap perkembangan, utamanya proses sosialisasi.
Beberapa hasil penelitian telah memberi gambaran bahwa ayah mempunyai arti yang berbede-beda dimata anak. Seorang anak kecil memandang ayahnya sebagai seseorang yang dapat melindungi dirinya dan sumber kekuatan yang dapat mengatasi semua masalah.bagi seorang anak laki-laki yang sedang tumbuh, ayah dijadikan model yang patut dicontoh, utamanya dalam proses sosialisasi.Oleh sebab itu dalam perkembangan anak, perlu adanya interaksi antara anak dan ayah.
Beberapa tahun terakhir  ini terdapat suatu  masalah yang banyak dibicarakan orang yakni makin banyaknya wanita yang ikut bekerja diluar rumah. Sehingga tidak jarang terjadi. Baik ayah maupun ibu sama-sama membina karier masing-masing sehingga mengharuskan berada diluar rumah dalam beberapa jam pada hampir setiap hari bekerja. Dengan demikian dapat, dapat membawa masalah apabila keluarga mempunyai anak balita. Peran pemeliharaan fisik mungkin dapat dilakukan oleh orang lain. Tapi, peran edukatif dari ibu sukar disubtitusi oleh orang lain, utamanya pembantu rumah tangga.
Akhirnya , perlu ditegaskan lagi bahwa disamping pendidikan keluarga itu, keluarga juga seyogiannya ikut mendukung program-program lingkungan pendidikan lainnya (Kelompok bermain, penitipan anak, sekolah, kursus/kelompok belajar, organisasi pemuda seperti : pramuka, PMR dan lain-lain). Keikut sertaan keluarga itu dapat pada tahap perencanaan, pemantauan dalam pelaksanaan, maupun dalam evaluasi dan perkembangan, dan berbagai cara (daya, dana , dan sebagainya). Dan yang tidak kalah pentingnya adalah upaya koordinasi dan keserasian antarketiga pusat pendidikan itu.
2.      Sekolah
Diantara tiga pusat pendidikan, sekolah merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Seperti telah dikemukaakan bahwa karena kemajuan zaman, keluarga tidak mungkin lagi memenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi generasi muda terhadap iptek. Semakin maju suatu masyarakat semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakatnya itu.
Dari sisi lain, sekolah juga menerima banyak kltitik atas berbagai kelemahan dan kekurangannya, yang mencapai dengan gagasan Ivan Illich untuk membebaskan masyarakat dari wajib sekolah dengan buku yang terkenal Bebas Dari Sekolah (Deschooling Society, 1972/1982). Meskipun gagasan itu belum dapat diwujudkannya, termasuk di negara Meksiko, namun kritik terhadap sekolah patut mendapat perhatian. Oleh karena itu, kajian itu terutama diarahkan kepada pencarian berbagai upaya yang dapat dilakukan untukmeningkatkan peranan dan fungsi sekolah untuk tantangan. Asumsi kajian ini adalah sekolah harus diupayakan sedemikian rupa agar mencerminkan suatu masyarakat Indonesia di masa depan itu, sehingga peserta didik memperoleh peluang yang optimal dalam menyiapkan diri untuk melaksanakan perannya itu. Oleh karena itu, sekolah seharusnya menjadi pusat pendidikan untuk menyiapkan manusia Indonesia sebagai individu,warga masyarakat, warga negara, dan warga dunia dimasa depan. Sekolah yang demikianlahyang diharapkan mampu melaksanakan fungsi pendidikan secara optimal, yakni mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia indonesia dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. (Pasal 3). Tujuan nasional tersebut diupayakan pencapaianya melalui pembangunan nasional, dengan demikian pembangunan nasional dibidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bagsa dan meningkatkan kualitas menusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur serta memungkinkan para warganya mengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun rohaniah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (UU RI No. 2 tahun 1989 butir Menimbang Ayat b).
Salah satu alternatif yang mungkin dilakukan disekolah untuk melaksanakan kebijakan nasional itu adalah secara bertahap mengembangkan sekolah menjadi sesuatu tempat pusat latihan (training centre) manusia Indonesia dimasa depan. Dengan kata lain, sekolah sebagai pusat pendidikan adalah sekolah yang mencerminkan masyarakat yang maju karena pemanfaatan secara optimal ilmu pengetahuan dan tekhnologi, tetapi tetap berpijak pada ciri keindonesiaan. Dengan demikian, pendidikan disekolah seyogianya secara seimbang dan serasi menjamah aspek pembudayaan, pengasaan pengetahuan, dan pemilikan peserta didik.
Suatu alternatif yang mungkin dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah, antara lain:
a.      Pengajaran ynag mendidik
Yakni pengajaran yang secara serentak memberi peluang pencapaian tujuan instruksional bidang studi dan tujuan-tujuan umum pendidikan lainnya. Pengusaan berbagai strategi belajar mengajar akan memberi peluang untuk memilih variasi kegiatan belajar mengajar yang bermakna,sedangkan kemantapan wawasan kependidikan akan memberikan landasan yang tepat dan kuat didalam pemilihan tersebut. Pemberian prakarsa dan tanggung jawab sedini mungkin kepada siswa untuk berperan di dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, tetapi juga bermanfaat untuk mumbentuk dan memperkuat kebiasaan belajar terus menerus sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup.
Dalam upaya mewujudkan pengajaran ynag mendidik, prlu pula dikemukakan bahwa setiap keputusan dan tindakan guru dalam rangka kegiatan belajar mengajarakan membawa dampak  atau efek kepada siswa, baik efek instruksional maupun efek pengiring. Sebagai contoh dapat dikemukakan  tentang tujuan-tujuan seperti: kreatifitas , berfikir kritis, keterbukaan dan tenggang rasa, dan mampu bekerja sama secara efisien dan efektif, yang kesemuanya memerlukan waktu yang panjang dan tidak mungkin hanya dalam satu atau dua jam pertemuan saja untuk mencapainya, serta terbentuk kumulatif secara setahap demi setahap dalam mengiringi pencapaian instruksional (Joy dan Weil, 1980: 16-17; Raka Joni, 1985 b:1). Oleh karena itu, baik efek instruksional maupun efek pengiring merupakan hal yang sangat penting dalam setiap kegiatan belajar mengajar, yang harus mendapat perhatian yang seimbang oleh setiap guru di dalam perancangan dan pelaksanaan program belajar mengajar (Sulo Lipo La Sulo, 1990: 54-55)
Meskipun pengalaman belajar itu adalah hal yang kompleks dan unik, tetapi dapat dibedakan ke dalam 3 jenis sesuai dengan sasaran pembentukan atau tujuan pendidikan yang akan dicapai. Secara singkat, ketiga jenis pengalaman belajar tersebut (Raka Joni, 1985: 14; Sulo Lipu Suli, 1990: 54) adalah:
1)      Pengkajian untuk pembentukan pemahaman-pemahaman, yang seyogianya diwujudkan secara utuh, baik hasilnya (fakta, pengertian, kaidah dan sebagainya) maupun prosesnya. untuk maksud tersebut, pengalaman belajar harus dirancang dan dilaksanakan dalam bentuk yang beraneka ragam, seperti:
a)      Dari segi caranya: mendengarkan ceramah, membaca buku, berdiskusi, melakukan pengamatan langsung, atau percobaan laboratorik dsb
b)      Dari segi peranan subjek didik dalam pengolahan pesan (apa yang dipelajarinya): ekspositorik yakni pesan diolah hanya oleh guru, ataukah heuristik / problematik yakni pesan diolah bersama oleh guru dan siswa,
c)      Dari segi cara pengolahan pesan: deduktif(dari umum ke khusus) ataukah induktif (dari khusus ke umum)
d)      Dari segi pengaturan subjek didik: kelompok besar (klasikal), kelompok kecil ataukah perseorangan (individual).
2)      Latihan untuk sasaran pembentukan keterampilan (fisik, sosial, maupun intelektual). Pembentukan keterampilan itu memerlukan perbuatan langsung, baik dalam situasi nyata maupun simulatif, disertai dengan pemberian balikan (feed back) yang spesifik dan segera.
3)      Penghayatan kegiatan / peristiwa untuk sasaran pembentukan nilai dan sikap (afektif), dengan pelibatan secara langsung, baik sebagai pelaku penerima perlakuan.
Pemilihan kegiatan belajar mengajar yang tepat, baik ditinjau dari instruksional maupun maupun  efek pengiring akan memberikan pengalaman belajar siswa yang efien untuk mewujudkan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Hal ini dapat dilaksanakan secara konsisten dan kontinu apabila guru memiliki wawasan kependidikan yang mantap dan menguasai pedekatan Cara Belajar Aktif (CBSA). Selain itu pemberian prakarsa dan tanggung jawab sedini mungkinkepada siswa dalam dalam kegiatan belajar mengajar akan memupuk kebiasaan dan kemampuan belajar mandiri yang terus menerus, yang pada gilirannya kelak akan sangat penting dalam upaya membangun dirinya sendiri. Dengan demikian diharapkan dapat mewujudkan suatu masyarakat belajar sebagai upaya penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
b.      Peningkatan dan pemantapan pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan (BP) di sekolah, agar program edukatif ini tidak sekedar suplemen tetapi menjadi komplement yang setarar dengan program pengajaran serta program lainnya di sekolah.
Pelaksanaan kegiatan BP di sekolah menitik beratkan kepada bimbingan terhadap perkembangan pribadi melalui pendekatan perseorangan dan kelompok.
Pengembangan kepribadian ke arah penyadaran jati diri sebagai manusia Indonesia merupakan sisi lain dari tujuan pendidikan  (TUPN), disamping penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi; bahkan Fuad Hasan mengemukakan bahwa pemantapan kesejatian diri lebih penting daripada apa yang tergolong sebagai milik (Fuad Hasan, 1986: 40). Hal itu telah dilaksanakan didalam pendidikan ABRI yang memberi bobot tinggi pada aspek mental kepribadian dibandingkan dengan aspek akademik dan fisik di dalam program pendidikannya.
c.       Pengembangan perpustakaan sekolah menjadi suatu pusat sumber belajar (PSB) yang mengelola bukan hanya bahan pustaka tetapi juga berbagai sumber belajar lainnya, baik sumber belajar yang dirancang maupun yang dimanfaatkan. Suatu PSB yang memadai akan dapat mendorong siswa dan warga sekolah lainnya untuk belajar mandiri.
d.      Peningkatan dan pemantapan program pengelolaan sekolah, khususnya yang terkait dengan peserta didik, pengelola sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan seharusnya merupakan refleksi dari suatu masyarakat Pancasilais sebagai mana yang dicita-citakan dalam tujuan nasional.
Keempat alternatif upaya (butir a-d hanya mungkin terlaksana apabila mendapat dukungan yang memadai dari program pengelolaan sekolah, baik dukungan sarana dan prasarana maupun dunkungan iklim profesional yang memadai) khusus pengelolaan kesiswaan, agar diterapkan asa tut-wuri handayani dengan tidak mengabaikan ing-ngarsa-sung-tulada dan ing-madya-mangun-karsa.
     Demikianlah alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan fungsi sekolah sebagai salah satu pusat pendidikan. Disamping tiu, penataan sistem persekolahan perlu pula mendapat perhatian khusus agar jenis dan jumlah setiap jenis itu tertata secara proporsional sesuai dengan kebutuhan pembangunan, baik dalam suatu wilayah maupun kebutuhan nasional.
3. Masyrakat
            Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat di tinjau dari 3 segi, yaitu :
v  Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan
v  Lembaga lembaga kemasyarakatan atau kelompok sosial di masyarakat
v  Dalam masyarakat tertdapat berbagai sumber belajar, baik yang di rancang maupun di manfaatkan.

Dalam pembahasan tentang asas belajar sepanjang hayat telah dikemukakan bahwa manusia sepanjang hidupnya selalu terbuka akan peluang memperoleh pendidikan. Bahkan di Amerika Serikat telah di kembangkan program khusus untuk memberi peluang seseorang yang berpengalaman dalam hidupnya memperoleh pengakuan pendidikan tinggi, seperti pada “School for New Learning” dari “De Paul University”.

Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada taraf perkembangan dari masyarakat itu beserta sumber-sumber belajar yang tersedia di dalamnya. Menurut Koentjaraningrat (dari wayan ardhana 1986: Modul 1/71-72) paling sedikit dapat di bedakan menjadi 5 tipe sosial-budaya, yaitu :
a.       Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang amat sederhana, hidup dengan berburu , dan belum mempunyai kebiasaan menanam padi.
b.      Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau sawah dengan tanaman pokok padi. Arah orientasinya adalah masyarakat kota dengan peradaban kepegawaian.
c.       Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan sistem bercocok tanam di ladang atau sawah dengan tanaman pokok padi. Arah orientasinya adalah masyarakat kota yang mewujudkan peradaban bekas kerajaan , berdagang dengan pengaruh islam , bercampur dengan peradaban kepegawaian.
d.      Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan system bercocok tanam di sawah dengan tanaman pokok padi. Arah orientasinya adalah masyarakat kota yang mewujudkan peradaban kepegawaian.
e.       Tipe masyarakat perkotaan yang mempunyai cirri-ciri pusat pemerintahan dengan sector perdagangan dan industry yang lemah.

Terdapat sejumlah lembaga kemasyarakatan atau kelompok social yang mempunyai peran dan fungsi adukatif yang besar, antara lain : kelompok sebaya , organisasi kepemudaan (pramuka, karang taruna, remaja mesjid, dsb ) lembaga social tersebut pada umumnya memberikan kontribusi bukan hanya dalam proses sosialisasi ,  tetapi juga dalam peninkatan pengetahuan dan keterampilan anggotanya.
Setelah keluarga, kelompok sebaya mungkin paling besar pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian , terutama pada saat anak berusaha melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan orang tua. Yang dimaksud kelompok sebaya (peers group)  adalah suatu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang bersamaan usianya, antara lain : Kelompok bemain pada masa kanak-kanak , kelompok monoseksual yang hanya beranggotakan anak-anak sejenis kelamin,  atau gang yaitu kelompok anak-anak nakal. Terdapat beberapa fungsi kelompok sebaya terdapat anggotanya (Wayan Ardhana, 1986 : Modul 5/19) anatara lain :
a)      Mengajar berhubungan dan menyesuaikan diri dengan orang lain
b)      Memperkenalkan kehidupan masyarakat yang lebih luas
c)      Menguatkan sebagian dari nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat orang dewasa
d)     Memberikan kepada anggota-anggotanya cara-cara untuk membebaskan diri dari pengaruh kekuasaan otoritas
e)      Memberikan pengalaman untuk mengadakan hubungan yang didasarkan pada prinsip persamaan hak .
f)       Memberikan penegetahuan yang tidak b isa di berikan oleh keluarga secara memuaskan (pengetehuan mengenai cita rasa berpakaian, music, jenis tingkah laku tertentu, dll )
g)      Memperluas cakrawala pengalaman anak , sehingga ia menjadi orang yang lebih kompleks.

Wayan Ardhana mengemukakan bahwa media massa memiliki tiga macam pengaruh. Pertama, pengaruh sosialisasi dalam arti luas, utamanya tentang sikap dan nilai-nilai dasar masyarakat serta model tingkah laku dalam berbagai bidang kehidupan. Kedua, pengaruh khusus jangka pendek, media massa mungkin menyebabkan orang membeli produk tertentu ataupun memberi pendapat dengan cara tertentu. Ketiga, media massa memberikan pendidikan dalam pengertian yang lebih formal, yaitu dalam memberikan informasi atau menyajikan pengajaran dalam suatu bidang studi tertentu . Ketiga fungsi ini tentu saja di luar dari fungsi memberikan rekreasi dan hiburan . Peranan media massa ini semakin menentukan di masa depan , karena kemajuan teknologi komunikasi sehingga media massa itu diterima langsung kerumah-rumah , seperti pada radio dan televise .



C.    Pengaruh Timbal Balik Antara Tripusat  Pendidikan Terhadap Perkembangan Peserta Didik
Perkembangan peserta didik, seperti juga tumbuh- kembang anak pada umumnya, dipengaruhi oleh berbagai faktor yakni hereditas, lingkungan proses perkembangan dan anugerah. Khusus untukfaktor lingkungan, peranan tripusat pendidikan itulah yang paling menentukan, baik secara sendiri-sendiri ataupun secara bersama-sama. Dikaitkan dengan tiga poros kegiatan utama pendidikan(membimbing, mengajar, dan melatih seperti tersebut ayat 1 pasal 1 UU RI No.2/1989).
Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberi kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni:
1)      Pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya.
2)      Pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan.
3)      Pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.
Salah satu masalah yang banyak dibicarakan ialah sekolah sebagai produk masyarakat modern sering membawa dampak negatif karena secara terselubung menghantar generasi terdidik ke kota-kota besar. Seperti diketahui, dislokasi sekolah itu adalah makin tinggi jenjang sekolah itu makin dekat ke kota besar, sehingga perguruan tinggi pada umumnya di ibu kota provinsi. Hal itu membawa dampak negatif yakni terpusatnya  tenaga terdidik di daerah perkotaan, dan hanya sedikit yang kembali ke daerah pedesaan. Program-program kuliah kerja nyata (KKN), pengerahan tenaga sarjana sukarela ke pedesaan, dan sebagainya belum berhasil mengatasi persoalan itu. Oleh karena itu terdapat terdapat berbagai pendapat yang diarahkan pada perbaikan program persekolahan, khususnya kurikulum agar lebih diorientasikan pada kebutuhan daerah yang bersangkutan.
Dalam petunjuk penerapan muatan lokal kurikulum SD (Lampiran Kep.Men .Dikbud No.0412/U1987) dikemukakan beberapa tujuan yang lebih rinci dari muatan lokal tersebut yang dapat dikategorikan dalam dua kelompok , sebagai berikut:
1.      Tujuan-tujuan yang segera dapat dicapai, yakni:
a)      Bahan pengajaran lebih mudah diserap oleh murid
b)      Sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikaan
c)      Murid dapat menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya
d)     Murid lebih mengenal kondisi alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya yang terdapat di daerahnya.
2.      Tujuan-tujuan yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya, yakni:
a)      Murid dapat  meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya
b)      Murid diharapkan dapat menolong orang tuanya dan menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya
c)   Murid menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungannya sendiri.




KLIK DISINI untuk Download file word materi diatas
SELANJUTNYA >>